Deskripsi bangunan
Taman Sari merupakan bangunan kebudayaan peninggalan Hamengkubuwana I yang kemudian dilanjutkan oleh Hamengkubuwana II Taman Sari yang menggunakan teknik konstruksi abad ke 17–18, menunjukkan bahwa kompleks bangunan ini memiliki kesan bangunan megah dan agung serta menggunakan teknologi bangunan yang sudah modern. Secara konstruksi, teknik yang digunakan untuk membangun Taman Sari adalah teknik bajralepa, serta mencampur pasir dan tumbukan bata yang diolah sehingga merekat seperti layaknya semen. Teknik bangunan Taman Sari tidak menggunakan beton bertulang besi, sehingga memerlukan tembok yang tebalnya tidak kurang dari 5 sentimeter (2,0 in). Hal ini yang menyebabkan jika Taman Sari runtuh misalnya karena gempa, maka tidak semua bagian bangunan runtuh total, bahkan ada juga yang tetap utuh.
Taman Sari memiliki luas 12,666 hektare (31,30 ekar) dengan sekitar 58 bangunan dengan 15 di antaranya merupakan bangunan utama. Kompleks ini dahulu dikelilingi air, sehingga Taman Sari dijuluki dengan nama “Istana Air” (Watercastle). Namun, saat ini, bagian yang dahulu diisi dengan air ini telah berubah menjadi permukiman penduduk. Sekitar 2.500 unit rumah memadati kawasan ini. Air yang dibutuhkan untuk kompleks istana Keraton Yogyakarta dan Benteng Baluwerti berasal dari aliran Kali Winongo yang dibendung di daerah Pingit, kemudian dialirkan ke arah Keraton. Orang-orang yang tinggal di dekat saluran itu tidak diperbolehkan mandi di saluran tersebut untuk menjaga kebersihannya, sehingga saluran tersebut diberi nama “Kali Larangan.”
Bagian pertama
Pulo Kenanga
Di tengah-tengah Segaran terdapat sebuah pulau buatan, “Pulo Kenanga”, yang ditanami pohon kenanga (Cananga odorata). Di atas pulau buatan tersebut didirikan sebuah gedung berlantai dua, “Gedhong Kenanga”. Pulau buatan ini berbentuk persegi panjang dengan beberapa bangunan berdiri di atasnya. Bangunan inti di Pulo Kenanga merupakan bangunan bertingkat, yang terdiri dari bagian tengah, sayap timur, dan sayap barat. Lantai atas dari bangunan tersebut aslinya terbuat dari kayu. Tingkat atas tersebut dicapai melalui dua tangga di sisi utara bangunan tengah. Dari lantai 2 bangunan tersebut, pengamat dapat melihat objek-objek yang ada di sekeliling Pulo Kenanga, termasuk seluruh kompleks ini, Pasar Ngasem. Keraton, dan bahkan seluruh Kota Yogyakarta.
Untuk mengakses pulau tersebut, orang dapat melewati terowongan di selatan maupun barat bangunan, atau dengan bersampan. Terdapat dua dermaga di selatan Segaran atau utara Pesanggrahan. Sultan memiliki dermaga sendiri dengan nama Pongangan Peksi Beri, sedangkan abdi dalemnya menggunakan pongangan yang lain. Untuk memasuki Pulo Kenanga, terdapat dua pintu gerbang, yakni di sebelah selatan dan utara.
Pulo Panembung dan Sumur Gumuling
Pulo Panembung adalah sebuah bangunan yang terletak di selatan Pulo Kenanga. Bangunan ini bertingkat dua dan berdenah persegi. Antara lantai 1 dan 2 dihubungkan dengan tangga batu bata plesteran yang menempel di dinding utara, lalu melingkar ke selatan. Lantai 2 bangunan tersebut diduga terbuat dari kayu. Fungsi Pulo Panembung sampai sekarang masih belum jelas, sedangkan masyarakat yang lama tinggal turun-temurun di area Taman Sari menyatakan bahwa Pulo Panembung berfungsi sebagai tempat untuk meditasi Sultan. Untuk memasuki bangunan tersebut, orang harus melewati terowongan yang mengarah ke utara-selatan.
Sementara itu di sebelah barat Pulo Kenanga terdapat bangunan berbentuk lingkaran seperti cincin yang disebut “Sumur Gumuling”. Bangunan berlantai 2 ini hanya dapat dimasuki melalui terowongan bawah air saja. Sumur Gumuling aslinya adalah masjid. Di kedua lantainya ditemukan ceruk di dinding yang digunakan sebagai mihrab, tempat imam memimpin salat. Di bagian tengah bangunan yang terbuka, terdapat empat buah jenjang naik dan bertemu di bagian tengah. Dari pertemuan keempat jenjang tersebut terdapat satu jenjang lagi yang menuju lantai dua. Di bawah pertemuan empat jenjang tersebut terdapat kolam kecil yang digunakan untuk berwudu.
Bagian kedua
Gedhong Pecaosan dan Gapura Hageng
Bagian depan sebenarnya dari Taman Sari adalah Gedhong Pecaosan di halaman Pagelaran, yang terletak di sisi paling barat Taman Sari. Wujud halaman Pagelaran ini telah hilang karena berubah menjadi lautan rumah penduduk. Bangunan Gedhong Pecaosan dimasukkan ke dalam salah satu rumah penduduk, sehingga fisik bangunannya masih dapat dikatakan lebih baik. Bangunan Gedhong Pecaosan digunakan sebagai tempat jaga bregada prajurit. Pada bagian ini, dahulu terdapat tempat untuk memasang meriam pertahanan.
Setelah memasuki Gerbang Pagelaran, maka pengunjung (di masa lalu) akan memasuki Gapura Hageng untuk memasuki halaman kedua. Gerbang ini berdenah segi empat dan berorientasi barat-timur. Di gerbang ini terdapat sepasang anak tangga berbentuk setengah lingkaran untuk naik ke atas bangunan. Gerbang yang dikenal ornamental ini, memiliki banyak ragam hias, mulai dari sulur-suluran hingga sayap, serta burung. Sulur-suluran dan burung yang mengisap bunga ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi, lajering sekar sinesep peksi yang melambangkan tanggal selesainya Taman Sari (1765 M).
Di tengah halaman kedua ini dahulu dibangun Gedhong Lopak-lopak, tetapi sekarang sudah hilang.
Umbul Pasiraman
Umbul Pasiraman atau Pasiraman Umbul Binangun adalah Kolam pemandian bagi Sultan dan keluarganya. Kompleks kolam pemandian ini beberapa gugus bangunan, yakni sepasang gerbang masuk (barat dan timur), tiga kolam pemandian, bangunan loker untuk berganti pakaian di utara, dan menara bertingkat. Ketiga kolam tersebut memiliki denah dan bentuk yang sama. Menara bertingkat terletak di antara kolam kedua dan ketiga.
Kolam tersebut juga diberi nama (diurut dari utara ke selatan):
- Umbul Kawitan (untuk putra-putri Sultan)
- Umbul Pamuncar (untuk selir dan permaisuri Sultan)
- Umbul Panguras (untuk Sultan sendiri)
Gedhong Sekawan dan Gapura Panggung
Ke arah timur dari Pasiraman Umbul Binangun, terdapat deretan empat bangunan. Keempat bangunan ini disebut Gedhong Sekawan karena memang jumlah bangunannya empat. Bentuknya persegi panjang dan memiliki empat ambang pintu di keempat sisinya berbentuk setengah lingkaran. Atapnya berbentuk limasan. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai ruang istirahat keluarga raja, dan juga tempat kegiatan Menari dan Karawitan
Ke timur lagi, terhadap Gapura Panggung, sekaligus membatasi area Gedhong Sekawan. Nama Gapura Panggung diberikan karena di bagian atasnya berbentuk seperti panggung terbuka. Gapura Panggung berbentuk persegi panjang dengan orientasi ke arah timur-barat. Bangunan ini mempunyai tangga yang ada di kanan-kiri bangunan untuk naik menuju panggung terbuka. Di bawah gapura terdapat empat ruangan besar yang dilengkapi pintu dan jendela, serta dihias dengan ornamen berbentuk sulur-suluran dan burung yang sedang hinggap.
Di belakang Gapura Panggung, terdapat dua pasang bangunan, yakni sepasang Gedhong Temanten dan Gedhong Pangunjukan. Bangunan yang kecil merupakan Gedhong Pangunjukan, yakni bangunan untuk menyimpan air minum yang disimpan di dalam tempyan. Sementara bangunan yang lebih besar dinamai Gedhong Temanten. Salah satu bangunan Gedhong Temanten saat ini dimanfaatkan sebagai loket masuk Taman Sari.
Bagian Ketiga
Bagian Keempat
Bagian keempat ini merupakan bagian yang hanya dapat ditemukan menurut rekonstruksi peta Keraton yang dibuat oleh beberapa orang Eropa saat mengunjungi Keraton Yogyakarta Bagian yang dimaksud ini adalah Pulo Gedhong (ada juga yang menyebut Pulo Arga). Pada tahun 1791, Carl Friedrich Reimer sempat mendeskripsikan bagaimana wujud Pulo Gedhong sebagai berikut:
…sebuah mata air di kaki menara Tionghoa yang tinggi, karena itu kita yakin bahwa Sultan saat ini pasti telah memilih tempat itu di atas segalanya untuk membangun istananya. Air sumur tersebut muncul dari bawah, yang berbatu di sana, meskipun demikian para tukang batu Jawa telah berhasil menampungnya di tangki atau baskom yang sangat sempit, dan mengalihkan air sesuai keinginan mereka ke mana-mana.
— H.D.H. Bosboom, TBG 45 (1902), hlm. 521
Menara itu terletak di sebelah tenggara Bangsal Magangan, dan berdiri di tengah-tengah danau buatan (Segaran). Segaran tersebut dihubungkan dengan Taman Sari di baratnya menggunakan kanal dan berpotongan dengan Keraton di dekat gerbang Kamandhungan. Dahulu terdapat jembatan angkat, agar sampan dapat bergerak dengan leluasa menuju Pulo Gedhong maupun sebaliknya
